Sukamdani-Sahid-GitosardjonoBagi anda yang berdomisili di ibukota Jakarta, anda pasti seringkali melintasi gedung-gedung perhotelan megah yang banyak tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Begitu megahnya gedung-gedung perhotelan tersebut hingga membuat anda sering berdecak kagum. Mengagumi keindahannya walaupun mungkin belum pernah singgah dan menginap di hotel tersebut.

Diantara begitu banyaknya jumlah hote berbintang di Jakarta, anda tentu mengenal hotel Sahid sebagai satu dari sekian banyak hotel mewah berbintang. Tapi tahukah anda siapa tokoh dibalik kesuksesan hotel Sahid? Dia adalah Sukamdani Sahid Gitosardjono.

Siapakah Sosok Sukamdani Sahid Gitosardjono?

Ia adalah pria kelahiran Solo, 14 Maret 1928. Putra dari pasangan R. Sahid Djogosentono dan R. Ngt. Hj. Sadinah ini lahir di keluarga kalangan sangat sederhana yang kala itu berdomisili di Sukoharjo. Sukamdani kecil banyak menghabiskan waktu untuk membantu pekerjaan kedua orang tuanya. Kadangkala ia membantu usaha jahitan ayahnya. Ia juga sering membantu menyiapkan barang-barang dagangan untuk keperluan warung kecil-kecilan milik sang ibu.

Tiap kali barang dagangan ibunya laku, Sukamdani akan menerima uang jajan dari sang ibu. Jiwa bisnis Sukamdani yang sudah terasah sejak kecil membuat ia giat menabung dari uang jajan tersebut dan digunakan untuk membeli ayam, kambing dan kerbau.

Awal Menapaki Dunia Bisnis

Ketika tahun 1945 terjadi perang, daerah tempat tinggal Sukamdani mengalami kekurangan pasokan logistik untuk bahan makanan tentara. Hal ini membuat Sukamdani merasa tergerak dan mulai berusaha mengumpulkan kain batik yang dimiliki masyarakat. Kain batik tersebut kemudian ditukar dengan beras untuk kebutuhan pangan para tentara. Pada periode tahun 1948-1950 ketika situasi politik kembali bergolak dan menimbulkan perang, Sukamdani yang sudah membuka bisnis kecil-kecilan juga turut berperan menyediakan bahan pangan untuk tentara. Kala itu ia bergegas mencari gaplek ke Wonogiri untuk ditukarkan dengan beras.

Baca juga:  Biografi Nelson Mandela

Setelah perang berakhir, Sukamdani kembali melanjutkan sekolah dan kemudian memutuskan untuk merantau ke Jakarta pada tahun 1952. Berbekal sebuah koper dan sepeda, Sukamdani kemudian menjadi PNS di departemen kementerian dalam negeri. Namun karena tak betah dan ingin merintis bisnis sendiri, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari profesi tersebut.

Setelah Sukamdani berkeluarga pada tahun 1953, ia mulai merintis bisnis percetakan dengan menyewa sebuah tempat di jalan Jenderal Sudirman. Tempat yang menjadi cikal bakal kesuksesan jaringan hotel Sahid. Bisnis percetakannya tersebut diberi nama NV Harapan Massa.

Sukamdani mulai giat membeli 2 mesin percetakan dan melakukan semuanya secara mandiri dibantu oleh sang istri. Semua kegiatan mulai dari membeli bahan, mencetak, mengirimkan pesanan hingga menagih biaya cetak dikerjakan sendiri olehnya. Dari rutinitasnya yang naik turun angkutan umum, Sukamdani kemudian memperoleh banyak kenalan bisnis pribumi maupun non pribumi.

Sukses dengan bisnis percetakan, Suakmdani berhasil mempelopori kongres perusahaan percetakan Indonesia pada tahun 1956. Dari kongres inilah ia mengenal presiden Soekarno dan mendapat banyak order cetakan dokumen dan buku pemerintahan. Sukamdani bahkan sempat mendirikan PT. Tema Baru yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan. Di tahun 1962, Sukamdani sudah memiliki 3 percetakan di Jakarta dan 1 percetakan di Solo.

Ide untuk merintis bisnis perhotelan pertama kali muncul saat Sukamdani sempat berkelana di Medan karena jadwal penerbangan yang selalu penuh. Saat itu ia menginap di hotel dalam waktu yang cukup lama. Dari kejadian inilah Sukamdani mengambil kesimpulan bahwa bisnis perhotelan pasti dibutuhkan oleh negara yang baru merdeka seperti Indonesia. Akhirnya Sukamdani memutuskan untuk menyisihkan keuntungan percetakan dan mulai merintis bisnis hotel.

Baca juga:  Nelson Mandela Meninggal Dunia

Tak hanya sukses di bisnis percetakan dan perhotelan, Sukamdani juga aktif di bidang pendidikan dan organisasi sosial. Ia mendirikan Akademi Grafika di tahun 1965 serta Universitas Veteran Bangun Nusantara di Sukoharjo. Untuk mendukung SDM yang berkualitas bagi bisnis perhotelannya, Sukamdani mendirikan akademi perhotelan dan Universitas Sahid pada akhir era 80-an.

Di bidang organisasi sosial, Sukamdani berhasil membawa Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menjadi lembaga formal yang dapat menjalin kerjasama dengan pemerintah. Ia dipercaya menjabat sebagai ketua KADIN pada periode 1982 hingga 1987. Semua kesuksesan ini tidak membuat Sukamdani mudah berpuas diri. Ia terus mengembangkan bisnisnya dan mulai mendidik generasi muda untuk memiliki semangat kerja keras serta kemampuan yang qualified. Sosok Sukamdani adalah salah satu pebisnis yang disiplin dan etos kerjanya patut diteladani.

“Saya tak pernah berputus asa. Mengerjakan sesuatu selalu sampai tuntas.” ~ Sukamdani Sahid