karakter-orang-indonesia-dalam-belanja-online

Indonesia memiliki puluhan juta pengguna internet dan juga dikenal sebagai salah satu negara pengguna sosial media terbanyak di dunia. Dengan banyaknya pengguna internet tentunya bisa memperbesar peluang sukses dalam hal bisnis E-Commerce meski pada akhirnya juga semakin banyak pesaingnya.

Namun meski demikian, Indonesia negara yang memiliki jumlah populasi terbesar keempat dunia justru hanya menduduki posisi terakhir pada lima besar negara pasar E-Commerce Asia. Urutan pertama adalah Cina, kedua adalah Jepang, Korea Selatan dan India. Wajarlah jika pasar E-Commerce masih kalah kuantitasnya dibandingkan Cina karena negara tersebut memiliki penduduk miliaran.

Namun jika dibandingkan Jepang dan Korea Selatan tentu tidak sebanding karena penduduk kedua negara tersebut yang jauh lebih sedikit dari Indonesia. Menurut sebuah survei memang ada banyak pengguna internet, namun kebanyakan masih enggan berbelanja online. Entah karena ragu, belum mengerti metode atau ada alasan lain.

Bagi Anda yang memiliki bisnis E-Commerce patut memahami tentang bagaimana ciri dan karakter orang Indonesia dalam berbelanja online. Tentu karakternya berbeda dengan cara orang Amerika Serikat atau orang Jepang dalam hal berbelanja online. Berikut ini kami mencoba sedikit mengulas sebagai bahan referensi dan melihat peluang bagaimana menjalankan strategi yang jitu dalam bisnis E-Commerce:

1. Transaksi Secara Langsung Bukan Dengan Bot

Tahukah Anda, orang Indonesia lebih menyukai transaksi online secara langsung dengan seller-nya. Maksudnya adalah, ketika mereka menemukan sebuah toko online yang menjual barang yang sedang diinginkan, orang Indonesia lebih suka melakukan kontak langsung dengan seller atau staff E-Commerce. Bisa melalui BlackBerry Messenger, SMS, Facebook, Telelpon dan layanan lain. Tentu saja sebuah karakter yang berbeda dengan orang luar negeri yang biasanya tidak perlu bertransaksi dengan seller-nya langsung.

Baca juga:  Alasan Mengapa Banyak Orang Memilih Minimarket Ketimbang Warung Kecil

Ya, orang luar negeri sering memanfaatkan fitur seperti ‘Shooping Cart’ yang merupakan sistem robot, sedangkan orang-orang kita tidak terbiasa melakukan transaksi dengan itu. Apa alasannya? Kurang begitu bisa dimengerti, kemungkinan transaksi secara langsung dianggap lebih memuaskan dan bisa bertanya-tanya. Padahal umumnya E-Commerce menuliskan detail spesifikasi yang lengkap. Tapi sudah menjadi tradisi dan kebiasaan.

2. PayPal dan Kartu Kredit Masih Begitu Asing

Jika Anda berminat untuk membuka E-Commerce di Indonesia, pastikan Anda memberikan layanan pembayaran yang mudah. Kartu kredit sebenarnya mudah, namun tidak semua pebelanja online memilikinya atau PayPal dengan alat pembayaran virtual online yang lebih canggih, cepat dan ringkas, tetapi masih terkesan asing dan sangat jarang dimiliki. Nah, akhirnya yang paling populer adalah transfer via rekening bank lokal. Jadi jangan sampai Anda tidak menyediakan layanan pembayaran yang asing bagi orang Indonesia.

3. Melakukan Kontak Tidak Selalu Deal Transaksi

Salah satu budaya dan tradisi transaksi online yang cukup lucu adalah ketika seseorang melakukan kontak sampai melakukan booking produk, jangan berharap penuh bahwa mereka akan 100% membelinya. Istilah populernya adalah ‘bid and run’, jadi seorang calon buyer mengkontak seller untuk transaksi sebuah barang. Buyer menyatakan sudah berminat dan membooking produk tersebut agar tidak dijual kepada orang lain.

Namun sudah ditunggu sebegitu lama, calon buyer tersebut malah menghilang (lost contact) dan akhirnya transaksi mengalami kegagalan. Entah apa alasan yang melatarbelakangi mengapa bisa terjadi ‘bid and run’ ini. Mungkin mereka hanya ingin mengetahui harga saja, atau sudah menemukan seller yang menjual lebih murah atau memang ada alasan lain.

Baca juga:  Pulau Jaco, Destinasi Wisata Andalan dan Populer di Timor Leste

4. Masih Menginginkan Keamanan Lebih

Jangan heran bila Anda melakukan transaksi dengan calon buyer dengan cukup lama. Mungkin calon buyer masih ragu, dan ingin keamanan transaksinya lebih bagus. Sebenarnya wajar-wajar saja, mengingat saat ini masih banyak berkeliaran para penipu online. Akhirnya jangan menolak jika mereka ingin transaksi melalui sistem layanan rekber (rekening bersama).

5. Belanja di Kantor

Pada sebuah artikel di salah satu situs bisnis, disimpulkan bahwa ternyata masih banyak orang Indonesia yang lebih memilih belanja online saat mereka sedang berada di kantor. Alasannya biasanya karena koneksi internet yang dianggap lebih cepat saat di kantor, serta gratis. Menurut Rio Inaba selaku CEO Rakuten Indonesia, puncak traffic E-Commerce terjadi pada jam-jam makan siang sekitar pukul 11.00.