E-mail-marketing

Berbiacara tentang marketing online memang tidak ada habisnya. Selalu saja ada trik baru, dan selalu saja ada tempat baru untuk melakukannya meski fasilitas lama juga masih tetap bisa diandalkan. Tempat atau fasilitas baru dalam marketing online diantaranya adalah media sosial yang sedang booming saat-saat ini, dan fasilitas lama contohnya adalah pada layanan yang sudah lama ada seperti E-mail dan program iklan baris.

Namun yang akan menjadi pembahasan kali ini adalah soal E-mail marketing dan yang menjadi pertanyaan adalah apakah strategi ini dianggap masih efektif?  Mengapa kami menanyakan kepada Anda bahwa apakah strategi E-mail marketing masih efektif, itu karena layanan E-mail memiliki banyak kekurangan dibandingkan layanan online lainnya. E-mail bahkan menjadi layanan yang biasanya dipakai untuk syarat membuat sebuah akun media sosial saja.

Setelahnya, E-mail akhirnya dibiarkan dan hanya dimanfaatkan ketika ada sebuah transaksi yang mengharuskan penggunaan surat elektronik ini. Jadi inilah beberapa alasan strategi E-mail marketing dianggap sudah kurang efektif saat ini:

1. E-mail Jarang Dibuka

Ada banyak pemilik akun E-mail yang jarang membukanya kembali. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa banyak orang yang memanfaatkan E-mail sebatas syarat untuk membuat akun media sosial atau membuat halaman web. Ketika Anda mengirimkan sebuah promosi mungkin hanya sebagian saja yang membuka kiriman Anda karena banyak orang yang sudah malas membuka E-mail lagi. Berharap saja ada sekitar 80% orang yang membuka kiriman promosi Anda dari sekian banyak akun. Itu sudah merupakan persentase angka yang lumayan banyak.

2. E-mail Kurang Fitur

Layanan E-mail dianggap kurang memiliki fitur untuk strategi marketing online. Tidak seperti pada layanan media sosial Facebook dimana Anda langsung bisa membuka Beranda dan melihat postingan seluruh orang yang terintegrasi. Postingan dapat berupa foto/gambar dengan keterangan deskripsi. Bagaimana dengan E-mail?

Yang terlihat pertama kali tentu saja adalah tulisan dan untuk melihat gambar Anda harus melakukan unduhan. Apalagi jika lampiran yang Anda kirim memiliki ukuran besar, semakin membuat orang malas untuk menghabiskan kuota internet dan menghabiskan waktu untuk mengunduh file promosi. Lebih ribet dan seperti kurang fitur, betapa tidak? Anda tidak bisa menemukan Beranda, Home atau sejenisnya dalam layanan E-mail. Yang ada hanya Kotak Masuk, Kotak Keluar, Draft dan sebagainya.

3. E-mail Bersifat Resmi

E-mail bersifat resmi atau terlihat lebih resmi, dengan ‘birokrasi’ berbelit. Maksudnya adalah Anda harus menulis subyek kemudian menuliskan alamat E-mail dengan tepat baru kemudian mengisi kolom surat dan mengirimkannya. Bukankah ini seperti ketika Anda menuliskan sebuah surat lamaran kerja atau seperti sedang mengisi surat ijin untuk pihak kepolisian menggelar panggung hiburan.

Pola E-mail yang semacam ini menyulitkan untuk strategi E-mail marketing. Orang lebih suka menggunakan E-mail untuk mengirimkan surat lamaran kerja, mengirim data pekerjaan, file dengan ekstensi dokumen dan sebagainya. Orang pastinya tidak terlalu peduli dengan kiriman promosi yang masuk ke Kotak Masuk.

4. Dianggap Spam

Inilah uniknya para pengguna E-mail, dimana mereka akan mencap seluruh pesan atau kiriman dari orang lain yang tidak dikenal sebagai sebuah spam. Apalagi jika dilihat isi E-mailnya tidak diharapkan atau aneh. Padahal belum tentu kiriman tersebut adalah spam, karena pihak pengirim promosi pastinya tidak akan rela jika kirimannya dianggap spam. Bahkan bisa saja pengelola E-mail langsung menempatkan kiriman promosi ke dalam folder spam, tidak masuk ke Kotak Masuk.

5. Dianggap Penipu

Ada beberapa pengguna E-mail yang akhirnya mengalami ketakutan dan kecurigaan saat menerima pesan promosi. Saking takutnya menjadi mangsa mereka langsung mendelete pesan. Alasannya karena dalam kiriman tersebut sang pengirim menuliskan atau menyebut namanya.

Dalam E-mail marketing bukankah sering muncul kata sapaan seperti ‘Hallo Mr. David’ atau ‘Apa kabar tuan Hartono’. Pihak penerima mencurigai pengirim akan melakukan penipuan dengan trik sebelumnya melacak nama pemilik akun dan ‘sok kenal’.  Namun kasus ini tidak begitu banyak terjadi.

Yang pasti E-mail marketing dapat efektif bila tertarget dengan tepat, namun kurang efektif bila tidak tertarget dengan tepat.